Suasana kali ini benar-benar beda dengan kemarin, penuh warna hijau disini. Pemandangan yang asri dan begitu tertata rapih. Sangat beda dengan kemarin, serba penuh polusi dan kemarau yang kering kerontang dimana-mana, serta panas yang begitu menggelora mengeluarkan keringat. Kalau lagi asik duduk di diatas Pangka’-pangka’ (bambu yang dibuat menyerupai tempat duduk) begini, rasanya kembali mengingat setahun yang lalu. Setahun yang tak bisa lepas dari ingatan bersama mereka-mereka yang super baper dan unyu-unyu.
Setahun yang lalu, saya dan mereka menjalani kewajiban mata kuliah KKN (Kuliah Kerja Nyata). Mata kuliah yang akan didapatkan ketika semua masalah perkuliahan selesai, sehingga bisa fokus dan membuat memori sebanyak-banyaknya selama dua bulan penuh di desa yang tak dikenal dan pedalaman. Banyak cerita yang bergulir bersama mereka dilengkapi kejadian-kejadian jenaka. Apalagi jika berbicara mengenai “Pulsa”. Ketika menjalani KKN, Kata “pulsa” itu diibaratkan sebuah barang terlangka di dunia yang bikin stress berkepanjangan, hingga lahirlah kata “Pulsa dimana dirimu”, yang menjadi kata keluh-kesah kami yang berada di desa itu.
Kok bisa?
Sekitar tanggal-tanggal awal dibulan februari 2014, saya terpilih menjadi sesuatu yang sama sekali tidak saya harapkan, yaitu kordes (koordinator desa yang akan mengontrol dan bertanggung jawab saat berada di desa). Dengan penuh lapang dada, saya pun menerimanya dan terpilihlah mereka (Harda, Eka, Ayu, Ismi, Dewi, Asrul, Tullah, Mahdi dan Rizki) yang akan menemani saya ber-KKN. Semuanya mempunyai sifat dan tingkah laku yang khas, Harda dengan sifat berbaur tapi perawatan, Eka dengan sifat manja dan jago selfie, Ayu dengan ponsel yang tidak pernah lepas dari telinga, Ismi dengan gaya tomboy dan selalu update, Dewi dengan kesederhanaannya yang punya banyak pasangan, Tullah dengan sifat arogan, Mahdi dengan sifat yang paling tidak bisa lepas dari ponsel ketika magrib menjelang, Rizki dengan segudang masalah tapi pintar memasak, dan yang paling parah si Asrul dengan status jomblonya. Tapi ada satu hal yang membuat kita sama, yaitu suka sekali update ke social media. Istilahnya itu “Anak-anak Sosmed”.
Pertengahan februari, kami pun berangkat ke lokasi yang akan menjadi lokasi KKN selama dua bulan penuh. Setelah 4 jam perjalanan, kami pun sampai di sebuah desa yang menyajikan panorama yang begitu menakjubkan. Disambut bagai pejabat terhormat dengan sangat terbuka, menimbulkan kesan pertama yang begitu bahagia. Desa yang kebanyakan orang menyebutnya sebagai desa “K” ini merupakan Desa yang mempunyai keunikan tersendiri dengan keramah-tamahan penduduknya. Ketika sampai di rumah pak desa, take picture terjadi disana-sini, apalagi para warga yang turut bergabung dengan penuh ceria. Berbagai gaya yang semeraut dilancarkan si Eka dengan tongsis warna pinknya. Dan seperti biasa, sebagai anak-anak sosmed, kami menguploadnya di semua situs jaringan sosial yang kami punya. Untungnya, Tower telkomsel berada dekat dengan desa “K”, jadi internetanpun lancar sekali.
Perlahan, senja hilang dari pandangan dan Adzan magrib pun berkumandang. Suara-suara katak dan jangkrik begitu merdu ditelinga, sungguh suasana yang hanya bisa didapatkan di desa. Selepas menunaikan shalat magrib, kami melakukan briefing guna penyusunan proker (program kerja) yang akan dilakukan, sekaligus pengenalan lebih dalam mengenai karakter masing-masing. Maklum, kami semua berasal dari jurusan yang berbeda dengan fakultas yang berbeda pula, sebuah keunikan dari mata kuliah KKN yang mengajarkan arti kebersamaan dalam lingkup perbedaan.
Ketika hasil briefing didapatkan, kami semua kembali pada aktivitas masing-masing. Harda, ayu, ismi, dewi, dan rizki langsung ke pojok dengan ponsel mereka. Mahdi dan Tullah memilih berkeliling desa guna mendapatkan informasi lebih tentang desa “K”. Saya dan Asrul karena sama-sama jomblo, terpaksa duduk diatas pos ronda yang tidak jauh dari posko untuk menonton Sepak bola sambil terus On di sosial media. Hal terburuk pun terjadi, Harda, ayu, ismi, dewi, dan rizki tiba-tiba bergabung dengan saya dan asrul. Usut punya usut, ternyata mereka kehabisan pulsa karena kelamaan menelfon. Tanpa sadar, ponsel saya dan asrul dipakai online oleh Harda dan Ismi yang ujung-ujungnya pulsanya juga habis. Awalnya, kami sama sekali tidak mempermasalahkan hal itu, karena jika pulsa habis, yah sisa beli lagi. Hingga Mahdi dan Tullah balik dari perjalanan mereka mencari tahu lebih jauh tentang desa “K”. Betapa terkejutnya kami ketika mengetahui sisi lain desa “K”.
Desa “K” adalah desa yang memiliki lima dusun. Empat dusun yang saling berdekatan, dan uniknya Satu dusun terpisah yang diantarai oleh desa lain yang jaraknya sekitar 1,5 Km. Parahnya, di desa “K” tidak terdapat penjual pulsa elektrik. Penjual Pulsa hanya ada di desa seberang yang jaraknya 2 Km. Bukan hanya itu, kami juga tidak bisa mendapatan pulsa murah walaupun sudah bersusah payah ke desa seberang untuk memebelinya. Bayangkan saja, pulsa 20 ribu dihargai 27 ribu. Si Eka langsung menyandarkan kepalanya di dinding sambil berkata “Ya Allah, inikah ujianmu” dengan nada-nada lebay.
Masalah selanjutnya bertambah, Materi yang sudah di print out dan akan dibawakan pada saat seminar desa hilang entah dimana. File Softcopy di laptop Asrul ludes terserang virus. Masalah yang begitu sempurna dengan senang hati menghampiri saat itu. Untungnya, si Tullah masih memiliki paket data internetan hingga satu masalah terselesaikan. Selama seminggu lamanya kami hidup tanpa pulsa dan tanpa internetan. Eka dan Ismi mulai menaikkan bendera putih serta mau melanggar perjanjian yang telah dibuat sebelumnya, namun dicegah oleh Asrul dan Harda. Ada beberapa perjanjian yang telah disepakati sebelum berangkat KKN, salah satunya adalah tidak akan pernah meminta bantuan orang tua atau sahabat lainnya diluar lingkup KKN sebagai proses pembelajaran untuk mencapai titik kemandirian. Hal ini membuat saya stress sebagai kordes, mau beli pulsa saja susahnya minta ampun.
Hingga suatu ketika, saya kembali ke kampus guna mengurus beberapa proposal yang akan diajukan kebagian akademik. Dan tentu saja, semua kawand saya memesan pulsa 100 ribu untuk persediaan. Tak lama saya duduk dan berfikir, kenapa saya tidak jualan pulsa saja. Selain dapat untung, pulsa yang didapatpun pulsa murah. Akhirnya, saya mencoba dengan deposit awal 500 ribu dan membawanya ke desa. Seperti dugaan, kami tidak lagi kehilangan pulsa. Selain mendapatkan untung dua kali lipat, Mau update foto selfie atau groufie ke sosial media kapanpun, bisa dilakukan dengan cepat dan murah.
***
Tak terasa, sebulan telah kami lewati dengan penuh kemandirian di desa “K”. Keramah-tamahan penduduknya membuat kami begitu betah dan masih ingin berlama-lama. Beberapa program kerja telah rampung dan terselesaikan dengan baik terutama divisi pendidikan dan kesehatan. Ketika lagi briefing, saya mencoba mengusulkan ke teman-teman untuk menambah satu divisi lagi yaitu teknologi dan komunikasi. Walaupun bukan bidang kami karena rata-rata berasal dari fakultas pendidikan dan kesehatan, tapi apa salahnya berbagi sesuatu yang kami bisa dan mempunyai hubungan dengan teknologi dan komunikasi. Dan, terpilihlah usulan dari dewi yaitu pelatihan komputer, namun disatu sisi kami terkandala dengan kurangnya prasarana terutama komputer. Kami sempat terdiam, hingga ismi mengusulkan agar pelatihan komputer dikhususkan bagi para pemuda yang kebetulan hanya sedikit di desa “K” dan masalah laptop akan digunakan laptop kami yang berjumlah 9 buah. Harda yang lagi asik menyimak kemudian menambahkan usulan yaitu khusus para remaja, diberikan pembelajaran otodidak bagaimana penggunaan internet dengan media smartphone. Mahdi tidak mau kalah dalam mengusulkan, ia menginginkan jika khusus masyarakat luas diadakan sosialisasi pentingnya pulsa dan internet di desa guna perkembangan desa kearah yang lebih baik dan modern. Saya pun tersenyum mendengar mereka antusias menyampaikan pendapat, sungguh beruntung menjadi Kordes disela-sela orang yang mau bekerjasama dengan baik.
Setelah satu divisi ditambahkan, kami kembali melakukan strategi guna mendapatkan perhatian masyarakat dan pemuda yang rata-rata tidak mempunyai waktu dikarenakan berprofesi sebagai petani. Hingga pak kades ceplos dibelakang kami, “Untuk pemuda dan masyarakat, biar bapak yang urus. Persiapkan saja alat yang akan dipakai dan materi yang mau disampaikan. Bapak akan kumpulkan semua warga untuk mendapatkan sosialisasi dari kalian”. Hati pun senang, seperti kata pepatah “semua yang baik akan pula mendapatkan yang baik”.
Pelatihan pun dimulai, tak pernah kami duga jika para pemuda dan remaja begitu antusias mendengarkan penjelasan kami. Mereka juga cepat mahir dengan apa yang kami ajarkan. Alhasil, mereka kini mempunyai semua akun sosial media dan bisa terhubung satu sama lain. Tapi tetap kami lakukan pencerahan tentang situs-situs yang tidak layak akses guna menjaga generasi muda agar tetap eksis namun bersih dari hal-hal yang tidak diinginkan. Semuanya kembali pada individu masing-masing, internet akan berguna untuk mencerdaskan ketika digunakan dengan benar dan akan sebaliknya merusak ketika tidak dilakukan dengan bijak.
Sosialisasi juga berjalan dengan lancar, kami memperkenalkan Pulsa sebagai sesuatu yang tidak bisa hilang dari kehidupan karena ia termasuk sebuah kebutuhan yang harus ada. Kami juga mengajarkan kepada masyarakat tentang bagaimana membuka usaha pulsa elektrik yang mempunyai keuntungan lebih. Dikarenakan jarak ke desa lumayan jauh, kami menambahkan materi bagaimana melakukan transaksi pembayaran melalui via transfer mobile. Supaya lebih meyakinkan masyarakat, kami mendatangkan salah satu pegawai server pulsa murah yang ada di kota kami untuk menjelaskan sedetail-detailnya. Antusias pun berdatangan dari para ibu rumah tangga maupun bapak-bapak yang ingin membuka usaha pulsa elektrik. Dalam kesempatan penuh bahagia itu, kami mengusulkan kepada pak kades untuk meminta bantuan kepada pemerintah berupa peralatan komputer untuk desa “K” yang dapat berguna sebagai fasilitas internet desa. Alhamdulillah, saran kami diterima dengan baik dan akan segera di proses lebih lanjut.
***
Dua hari terakhir di desa, kami menyempatkan memutari desa “K”, Alhamdulillah sudah banyak didapati penjual pulsa elektrik yang harganya murah. Lima buah komputer siap pakai juga berhasil didatangkan oleh pak kades. Sungguh perasaan yang begitu melambung tinggi melihat saran kami dapat berguna bagi masyarakat desa. Akhirnya semua program telah terlaksana dengan baik, saatnya kami pamit kepada masyarakat desa. Malam penarikan pun digelar dan tak tanggung-tanggung, server pulsa murah yang kami datangkan dulu mau mensponsori kegiatan penarikan kami dan diadakanlah lomba joget dan nyanyi yang berhadiahkan pulsa dan paket data internet. Antusias warga pun membeludak dengan penuh tawa dan canda yang menghiasi malam. Bukan hanya tawa dan canda yang menghiasi malam itu, air matapun membasahi pipi karena harus berpisah dengan masyarakat yang begitu ramah dengan lingkup desa yang begitu indah.
Kami pun meninggalkan desa “K” dengan penuh haru dan sebuah keberhasilan ber-KKN di desa yang begitu indah. Tak disangka, Sayuran segar dan buah pisang memenuhi mobil kampus yang akan kami tumpangi, serta beberapa kecupan dan pelukan hangat yang mendarat kepada kami. Dua bulan penuh kesan, Dua bulan penuh cerita tentang kebersamaan yang tak pernah terlupakan.
Akhir kata, saya ingin mengucap rindu dan terimakasih buat kawand KKN (Harda, Ismi, Eka, Asrul, Dewi, Rizki, Ayu, Tullah dan Mahdi) karena usaha kita ternyata berbuah hasil. Saya mendengar kabar dari mahasiswa yang sekarang menjalani KKN disana, katanya desa “K” sudah menjadi Desa Pintar (desa punya internet) versi Kemkominfo.
Salam Penceloteh
